Boraks Dalam Tubuh

Boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, karena sifatnya yang terakumulasi (tertimbun) sedikit demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks bukan hanya mengganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga mengganggu alat reproduksi pria.

Secara klinis dan patologis ditemukan kelainan pada susunan saraf pusat, saluran pencernaan, ginjal, hati dan kulit. Yang paling mengkhawatirkan adalah

karena adanya efek akumulatif bila menyerang susunan saraf pusat akan menyebabkan depresi, kekacauan mental dan pada anak-anak kemungkinan akan menyebabkan retardasi mental.

Senyawa boraks dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan pencernaan atau absorbsi melalui kulit yang luka atau membran mukosa.

Dalam lambung boraks akan diubah menjadi asam borat, sehingga gejala keracunannya pun sama dengan asam borat. Setelah diabsorbsi akan terjadi kenaikan konsentrasi dan ion boraks dalam cairan serebrospinal. Dosis lethal pada orang dewasa adalah 15-20 gram, sedangkan pada anak-anak 3-6 gram.

Berdasarkan kondisi di atas munculah pembatasan penggunaan boraks melalui peraturan nomor 722/MENKES/PER/88 Pasal 3 Ayat 1 yaitu “bahan tambahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan”, dimana bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, diantaranya : asam borat (boric acid) dan senyawanya, asam salisilat dan garamnya, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi, nitrofurazon, formalin.

Leave a Comment