Fenomena Air Isi Ulang

Indonesia kesulitan air bersih…..!!!!

Tidak bisa dipungkiri keadaan seperti itu sedang terjadi dan tentunya akan lebih parah bila tidak ada usaha keras memperbaikinya, sepertinya kejadiannya sudah melanda banyak wilayah, terutama tentunya perkotaan.

Kurangnya jumlah air layak minum yang dapat diperoleh mendorong munculnya usaha rumah tangga bahkan industry besar dalam penyediaan air minum. Selain produk bermerk yang menjual air minum dengan harga lebih mahal dari minyak bumi (bensin, minyak tanah) muncul juga fenomena “air isi ulang”.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang mengkonsumsi air minum isi ulang. Mereka memiliki banyak alasan untuk menggunakan air isi ulang diantaranya adalah harga air minum isi ulang yang murah, mudah didapat karena depot yang ada di sekitar perumahan masyarakat, dan praktis (tidak perlu dimasak).

Proses pengolahan air minum isi ulang dilakukan dengan beberapa metoda, yang paling popular adalah metoda penyaringan. Proses penyaringan terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu dengan menggunakan pasir, batu, ijuk, dll (metoda klasik) atau dengan menggunakan saringan membrane (metoda lebih baru). Saringan membran dengan menyaring air melalui membran semi permeable yang dinamakan Reverse Osmosis (RO). Suatu tekanan tinggi diberikan melampaui tarikan osmosis sehingga memaksa air melewati proses Reverse Osmosis dari bagian yang memiliki kepekatan tinggi ke bagian dengan kepekatan rendah. Selama proses ini terjadi, kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air tercemar. Molekul air dan bahan mikro yang lebih kecil dari pori-pori RO akan melewati pori-pori membran dan hasilnya adalah air yang murni.

Saat ini, kebanyakan membran yang secara optimal dapat memisahkan partikel berukuran lebih kecil 0,08 mikrometer. Artinya saringan ini dapat menyaring material-material padat dalam ukuran kecil bahkan dapat menyaring bakteri, tidak untuk virus. Itu idelnya, masalahnya membrane ini benda yang sangat tipis dan mudah jebol, persoalan muncul dari kekurangan pengetahuan operator atau pemilik akan hal ini. Padahal kalau kita perhatikan pada depot air isi ulang, dilakukan proses penyinaran sebagai salah satu prosesnya. Maksud penyinaran tentunya adalah membunuh mikroba dengan sinar UV. Apakah itu benar? Untuk menjawab silahkan anda uji coba, simpan air tersebut selama 1 bulan, apakah jamuran?

Kenyataannya, BPOM menguji sampel air dari 95 depot air minum isi ulang di lima kota, termasuk Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Menurut hasil penelitian ini, sebagian air yang dimaksud juga tercemar bakteri coliform, e-coli, dan salmonella. Bahkan beberapa sampel air terdeteksi mengandung logam berat kadmium. Seharusnya air yang akan dikonsumsi manusia tidak mengandung bakteri coliform. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam standar nasional Indonesia Nomor 01 35543 Tahun 1996 dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002.

Masih belum bisa dipastikan tingkat bahaya berbagai bakteri penyakit yang terdeteksi dalam air minum isi ulang. Demikian pula asal-muasalnya. Ia bisa berasal dari perjalanan air minum itu dari sumber airnya, baik di sumber mata air, air ledeng dari perusahaan daerah air minum, ataupun sumber air tanah. Atau proses pengolahan yang kurang tepat.

Leave a Comment