Karbon monoksida

Karbon monoksida adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa yang merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari material karbon. Meskipun merupakan racun yang berbahaya, karbon monoksida memiliki peranan penting dalam teknologi modern, menjadi prekursor untuk berbagai produk. Karbon monoksida terdiri dari satu atom karbon yang kovalen dengan satu atom oksigen.

Konsentrasi CO di atmosfer biasanya kurang dari 0,001%, di mana konsentrasinya di daerah perkotaan lebih tinggi bila dibandingkan daerah pedesaan. CO utamanya bersumber dari asap kendaraan bermotor, pemanas ruangan atau air, dan asap yang terinhalasi. Asap tembakau merupakan sumber CO yang penting.

Secara umum bentuk karbon monoksida menunjukkan banyaknya karbon dioksida yang direduksi oleh oksigen selama proses pembakaran. Karbon monoksida memiliki beberapa kemiripan yang signifikan dengan bahan bakar, mudah terbakar di udara dengan karakteristik “blue flame”, menghasilkan karbon dioksida.

Karbon monoksida yang berasal dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan kematian tidak hanya pada ruangan tertutup tetapi juga pada ruangan semi tertutup. Dalam ruangan atau garasi tertutup, konsentrasi letal karboksihemoglobin dapat dicapai dalam waktu sepuluh menit.

Keracunan gas karbon monoksida

Keracunan gas karbon monoksida dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, rasa tidak enak pada mata, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernafas, kelemahan otot-otot, gangguan pada sisten kardiovaskuler, serangan jantung sampai pada kematian.

Efek toksik sebagai akibat dari terhirup dan terserapnya gas karbon monoksida terjadi karena karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah.

Karbon monoksida juga menimbulkan efek toksik langsung pada tingkat seluler dengan menghambat respirasi mitokondrial akibat terikatnya karbon monoksida dengan sitokrom oksidase. Akibatnya selain produksi energi terhambat, juga terjadi pembentukan radikal bebas yang semakin memperberat kerusakan jaringan berbeda dengan hemoglobin, afinitas sitokrom oksidase terhadap oksigen lebih besar dibandingkan terhadap karbon monoksida . Namun, adanya keadaan anoksia sel akan memudahkan interaksi antara sitokrom oksidase dan karbon monoksida

Mekanisme lain yang dianggap berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya efek lanjut meliputi pelepasan mediator-mediator kimia yang menyebabkan peroksidasi lipid otak. Karbon monoksida menyebabkan sel endotel dan platelet melepaskan nitrit oksida dan pembentukan radikal bebas oksigen termasuk peroksinitrit. Pada otak, hal ini menyebabkan disfungsi lebih lanjut dari mitokondria, kebocoran kapiler, sekuestrasi leukosit dan apoptosis. Hasil akhirnya berupa peroksidasi lipid ( degradasi asam lemak tak jenuh ) yang menyebabkan demielinisasi reversibel dari substansia alba sistem saraf pusat, dan dapat menyebabkan edema dan nekrosis fokal dalam otak.

CO tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh kecuali jika ada pernafasan aktif. Waktu rata-rata yang diperlukan oleh seorang yang beristirahat untuk mengeluarkan CO sampai kadarnya menjadi ½ konsentrasi semula (waktu paruh) adalah 250 menit. Jika sebagai ganti udara dipakai oksigen maka keseimbangan : HbO2 + CO↔ COHb + O2 akan bergeser ke kiri, sehingga waktu yang diperlukan untuk membuat kadar COHb menjadi berkurang dari semula hanya berlangsung 40 menit. Jika pada O2 ini ditambah CO2 5%, waktu yang dibutuhkan akan berkurang lagi menjadi 13,7 menit. Pemberian CO2 5% ini akan menyebabkan terjadinya hiperventilasi serta penutunan Ph darah yang akan mempercepat pembuangan CO ini. Pemberian O2 dengan tekanan 2 atmosfir akan lebih mempercepat lagi eliminasi COHb menjadi hanya 7,6 menit.

1 Comment

    Leave a Comment