Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dapat digunakan untuk tujuan sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, preparatif dan untuk menjajaki sistem fase gerak dan sistem fase diam yang akan digunakan pada kromatografi kolom ataupun kromatografi cair kinerja tinggi. Teknik operasional pada Kromatografi Lapis Tipis hampir sama dengan Kromatografi kertas, namun sebagai pengganti kertas adalah lapisan tipis dari partikel halus adsorben pada permukaan lempeng gelas, logam, atau plastik.

Fase diam kromatografi lapis tipis

Fase diam pada Kromatografi Lapis Tipis sering disebut adsorben, walaupun pada kondisi tertentu dapat berfungsi sebagai penyangga zat cair pada sistem partisi. Dengan demikian penggunaan istilah adsorben bukan berarti bahwa mekanisme pemisahan selalu berdasarkan adsorpsi. Pemisahan dapat berdasarkan adsorpsi atau partisi, tergantung kondisi percobaan dan metode pembuatan lempeng. Adsorben yang umum digunakan adalah silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oksida), kieselguhr (tanah diatome), dan selulosa. Silika gel relatif asam sehingga sering digunakan untuk senyawa asam, dan umumnya digunakan untuk kromatografi adsorpsi maupun partisi. Sedangkan alumina relatif basa sehingga sering digunakan untuk pemisahan basa. dan umumnya digunakan untuk kromatografi adsorpsi. Hal tersebut dilakukan untuk meminimumkan reaksi asam basa antara adsorben dan senyawa yang dipisahkan. Kieselguhr dan selulosa merupakan bahan penyangga lapisan zat cair pada sistem partisi, sehingga sering digunakan untuk pemisahan senyawa polar seperti asam amino, karbohidrat, nukleotida, dan senyawa hidrofil alam.

Di antara adsorben tersebut di atas, silika gel adalah yang paling banyak digunakan. Silika gel (SiO2) merupakan rantai -O-Si-O- dimana pada bagian permukaan silika berupa gugus-gugus hidroksil -OH, oleh karena itu silika gel relatif bersifat polar. Oleh karena itu, Kromatografi Lapis Tipis umumnya menggunakan sistem fase normal. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa dalam KLT digunakan sistem fase terbalik. Dalam hal ini permukaan silika gel terlebih dahulu dimodifikasi agar tidak lagi mengandung gugus hidroksil, melalui reaksi silanisasi menggunakan dichlorodimethyl silane

Fase gerak kromatografi lapis tipis

Fase gerak atau Eluen yang digunakan umumnya bersifat non polar, sehingga Kromatografi Lapis Tipis lebih banyak dijumpai sebagai sistem fase normal. Salah satu alasannya adalah untuk mengurangi serapan dari setiap komponen dalam campuran eluen. Jika komponen campuran eluen memiliki polaritas yang tinggi, terutama akuades, akan dapat mengubah mekanisme pemisahan menjadi partisi dan tidak lagi adsorpsi. Pada sebagian besar kasus, eluen tunggal akan menggerakkan bercak terlalu jauh atau bahkan tidak dapat menggerakkan. Oleh karena itu seringkali harus mencampur eluen untuk memperoleh kepolaran yang diinginkan. Campuran yang baik akan menghasilkan eluen yang memiliki kekuatan bergerak sedang, namun sebaiknya tidak mencampur lebih dari 2 eluen, karena campuran yang kompleks akan cepat mengalami perubahan dengan adanya perubahan suhu.

Pencampuran eluen dengan perbedaan kepolaran yang sangat berbeda dapat menyebabkan terpisahnya eluen. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan terbentuknya bercak berbentuk bulan setengah yang aneh, atau diperoleh 2 garis depen eluen pada lapisan. Namun dalam beberapa kasus , fenomena ini digunakan untuk upaya peningkatan pemisahan. Tingkat kualitas kemurnian eluen harus diperhatikan terutama untuk KLT kuantitatif. Bila memungkinkan gunakan eluen pro-kromatografi, atau setidaknya pro-analisis. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari dapat digunakan eluen dengan tingkatan yang lebih rendah, namun harus diingat bahwa keberadaan pencemar terkadang memberikan perubahan yang berarti. Pertimbangan lain dalam pemilihan eluen, umumnya sama dengan kromatografi kertas.

Leave a Comment